[FOTO ESAI] Kapten Jack, Penjaga Laut Karimunjawa

Dharma Wijayanto

Image
ESAI: Kapten Jack, Penjaga Laut Karimunjawa | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Matahari pagi perlahan terbit diambang batas lautan dan langit. Ketua Yayasan Swadaya Masyarakat Alam Karimun (AKAR) Bambang Zakaria (46), mulai sibuk menarik sauh kapal kayunya dari bibir pantai.

Bukan untuk pergi mencari ikan seperti nelayan lainnya, melainkan mendapat laporan mengenai kapal tongkang yang masuk wilayah tangkap ikan tradisional di kampungnya Desa Kemujan, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.

Saat itu sedang musim angin timur, dimana gelombang ombak menyapu dengan tinggi satu meter. Kapal kayu sederhana milik Bambang bersama nelayan lainnya dan aktifis lingkungan Greanpeace mulai bergegas mencari titik kapal tongkang pengangkut batubara tersebut berlabuh.

Pria asal Bugis Makasar yang berpenampilan mirip Kapten "Jack Sparrow" pada film "Pirate of the Carribian", mulai memacu mesin kapalnya menuju laut lepas. Tujuannya adalah mengusir keberadaan kapal tongkang yang berlabuh di wilayah konservasi.

Sebelumnya, pada April 2018 Greenpeace melakukan penelurusuran di daerah sekitar Pulau Tengah, Pulau Cilik, dan Legon Bajak yang berada di Karimunjawa.

Area tersebut menjadi daerah terdampak perusakan terumba karang akibat kapal tongkang yang melewati wilayah konservasi. Kapal tongkang yang ditarik oleh kapal tunda (tug-boat) menghasilkan kerusakan setidaknya 47 persen patahan karang di 231 meter area Legon Bajak.

“Rusaknya terumbu karang itu membuat kami kesal, karena daerah tersebut adalah spot tangkap ikan nelayan tradisonal dan juga masih berada di kawasan konservasi milik Taman Nasional Karimunjawa. Kalau coral (terumbu karang-red) rusak, artinya kami harus melaut lebih jauh dan memakan biaya yang besar,” cerita Bambang saat menahkodai kapalnya dilautan.

Dari pengamatan Yayasan AKAR menyebutkan, terumbu karang yang rusak itu berjenis hard corals, acropora dan non-acropora, dead scheractinia, ganggang, serta abiotik.

Kerusakan ini pun diperparah dengan masifnya wisatasan tanpa ada edukasi mengenai terumbu karang. Wisatawan bisa bebas menginjak karang di beberapa titik spot snorkeling dan selam.

Keberadaan biota laut seperti Ikan Kakak Tua (Scarus frenatus) ikut terancam, dimana ikan tersebut merupakan jenis ikan asli Karimunjawa yang hidup di antara karang dengan kedalaman 1-25 meter.

“Dulu sebelum banyak kapal tongkang berlabuh dan minat wisatawan untuk snorkeling, ikan ini mudah kami dapat, sekarang sudah susah,” ujar Bambang.

"Kami bersama masyrakat nelayan, kini mulai sadar. Laut, terumbu karang dan seluruh hasil laut adalah sumber rezeki kami. Membersihkan pantai dan plastik adalah cara paling mudah buat kami untuk menjaga laut, agar anak cucu kami bisa juga ikut menikmati hasilnya nanti," cerita Bambang lagi. []

AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

terkait

Image
Image
Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image