Bisakah Asian Games Mengambil Posisi untuk Melawan Terorisme?

Hervin Saputra

Blog

Image
Warga menyalakan lilin untuk menunjukkan solidaritas terhadap korban peledakan bom di Surabaya, Minggu (13/5) malam. ANTARA/Didik Suhartono

AKURAT.CO, Andaikan Vietnam tak “menyerahkan” hak mereka sebagai pemenang bidding tuan rumah Asian Games 2018, maka entah berapa tahun lagi Indonesia bisa menjadi tuan rumah pesta olahraga se-Asia setelah yang pertama pada 1962.

Dengan segala kekurangan dan besarnya harapan, juga kritik Presiden Joko Widodo terhadap minimnya promosi, pada dasarnya kesanggupan untuk menggelar Asian Games adalah upaya negara juga keinginan dunia internasional untuk membuat Indonesia memiliki reputasi positif.

Dan, tahukah Anda, bahwa ketika ibukota Vietnam, Hanoi, memenangi bidding pada 2012, mereka bersaing dengan Dubai dan Surabaya? Ya, Surabaya yang itu, yang jalanannya menjadi lengang dalam dua hari terakhir akibat bom meledak di tiga gereja, sebuah rumah susun, juga gerbang markas polisinya, berikut sembilan nyawa yang melayang akibatnya.

baca juga:

Geluti Bisnis Kecantikan, Ini Arti Kepemimpinan Menurut Vanessa Angel

Beauty Blogger Ini Kerap Menjadi Inspirasi Vanessa Angel Dalam Berias

Indonesia U-23 1-2 Korsel U-23 Milla Jelaskan Filosofi Permainan Timnas U-23

Betapapun ledakan bom telah sering terjadi di Indonesia, namun, setiap kali peristiwa itu terjadi, kepiluan tetap tak terhindarkan. Ledakan bom bunuh diri yang mengorbankan anak-anak berusia sembilan hingga 18 tahun itu telah membuat kita miris dan melihat kegelapan yang melintas justru ketika kita sedang menyiapkan lampu-lampu pesta menyambut warga sesama Asia di Asian Games.

Dari sudut pandang momen ketika ledakan di Surabaya terjadi, maka Asian Games berada pada dua sisi yang ironis. Ketika Paus Fransiskus memberikan reaksi terhadap insiden di Surabaya dari Vatikan, maka dengan sendirinya Indonesia menjadi perhatian dan dunia akan melacak bahwa ledakan terjadi justru ketika Indonesia sedang bersiap menyambut sekitar 15 ribu atlet dan ofisial yang akan terlibat di Asian Games.

Asian Games di Indonesia menjadi populer justru melalui wajah yang gelap dan tragis. Sejarah tak akan terhapus di mana Asian Games yang kedua bagi Indonesia sekaligus yang ke-18 sepanjang sejarah event multi-cabang ini didahului dengan ledakan bom bunuh diri yang melibatkan anak berusia sembilan tahun.

Sisi lainnya adalah munculnya semacam solidaritas yang mengatasi “daging” dari alasan peledakan tersebut: kebencian antar agama. Melibatkan anak-anak telah menempatkan semua wakil dari agama sebagai korban, secara harfiah, korban nyawa.

Kendati demikian, persoalannya menjadi tidak sederhana karena ketakutan yang disebabkan oleh teror tersebut bagaimanapun tetap muncul. Dalam konteks olahraga, dengan posisinya yang cukup pas, ketakutan itu secara terbuka disampaikan oleh atlet bulutangkis ranking satu dunia yang menjadi simbol kekuatan Indonesia: Marcus Fernaldi Gideon.

“Sekarang saya mau ke mal aja jadi nggak berani, tadi mau ke sini aja (Hotel Fairmont) jadi takut. Was-was pasti ada, apalagi dalam 24 jam saja sudah ada beberapa kejadian, mudah-mudahan ke depannya lebih aman," ujar Marcus usai konferensi pers Indonesia Terbuka 2018 di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Senin (14/5).

Pasangan ganda putra bulutangkis terbaik dunia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, saat berbicara di konferensi pers Indonesia Terbuka 2018 di Jakarta, Senin (14/5). (Foto: AKURAT.CO/Dharma Wijayanto).

"Saya turut berduka cita bagi yang kehilangan (korban), kalau bisa jangan ada yang ‘gitu-gitu lagi. Semuanya jadi terganggu, termasuk acara ini (Indonesia Terbuka 2018). Pasti banyak orang yang takut untuk keluar rumah."

Marcus adalah perwakilan yang pas dalam isu ini. Karena selain sebagai atlet terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini, dia adalah keturunan China sekaligus beragama Katolik. Dan ia menyampaikan ketakutan itu di hadapan Ketua Umum PBSI sekaligus Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto.

Di tempat yang lain, Pelatih Persija Jakarta, Stefano Cugurra Teco, secara terbuka menyebut bom di Surabaya telah merusak nama Indonesia. Bom, kata Teco, merugikan masyarakat Indonesia justru ketika Indonesia sedang bergeliat mengambil tempat di pentas Asia melalui Persija Jakarta yang bersiap menghadapi tim asal Singapura, Home United, untuk leg kedua semifinal Zona Asean Piala AFC 2018, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (15/5).

“Ini tidak bagus untuk nama Indonesia di mata internasional. Teman dan saudara saya dari Brasil menanyakan soal ini dan saya tidak bisa menjawabnya,” ucap Teco.

Apa yang disampaikan Teco dan Marcus adalah isyarat yang menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju industri olahraga yang semakin berkembang. Ditandai dengan kiprah tim Liga 1 Indonesia di Piala AFC, Asian Games 2018, dan turnamen bulutangkis tahunan paling bergengsi di dunia yang digelar setiap Juli, Indonesia Terbuka 2018.

Dan terorisme? Ini adalah tantangan serius dan memilukan. Pernah terjadi pada 2009 ketika skuat Manchester United batal ke Indonesia meski tiket pertandingan telah dijual karena hotel tempat mereka menginap, Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, menjadi arena tempat ledakan bom yang menewaskan sembilan orang di mana tiga di antaranya adalah warga negara asing.

Tetapi olahraga adalah kegiatan massal yang tak memiliki pengertian negatif karena pada dasarnya kegiatan ini adalah tontonan dan hiburan. Posisi olahraga sebagai hiburan inilah yang bakal menjadi kekuatan untuk melawan terorisme itu sendiri.

Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, akan menjadi saksi pembukan Asian Games ke-18 pada 18 Agustus mendatang. (Foto: AKURAT.CO/Sopian).

Pemerintah telah berulang-ulang mengajak masyarakat untuk tidak takut dengan terorisme. Masyarakat tidak takut, tetapi pemerintah juga harus memberikan kesan bahwa mereka lebih kuat dari operasi intelijen yang meloloskan para martir untuk meledakkan diri demi menimbulkan rasa takut.

Selain itu, bukankah event olahraga juga berperan menggerakkan roda ekonomi dengan menciptakan lapangan kerja?  

Tak ada kata lain, Asian Games akan menjadi kekuatan dan ujian bagi Indonesia untuk membuktikan bahwa terorisme bukanlah “bakat”. Sportifitas dan kerja keras para atlet serta antusiasme penonton yang akan kita saksikan di Jakarta-Palembang pada 18 Agustus – 2 September mendatang adalah ideologi yang cukup besar untuk melunakkan terorisme.[]

 

 

 

terkait

Image
Image
Image

terkini

Image
Image
Image