Miris, Anak Sekolah Rentan Terjerumus Paham Radikal

Lina Citra Rasmi

Image
Konferensi Pers Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Gedung KPAI, Jakarta, Selasa (15/5). | AKURAT.CO/Lina Citra Rasmi

AKURAT.CO, Terkait maraknya keterlibatan anak dalam kejahatan terorisme, hal ini mendapat perhatian khusus dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Berdasarkan beberapa survei di sejumlah daerah, ada temuan yang mencengangkan. Anak sekolah sangat rentan terpapar paham radikal.

Retno Listyarti, anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tak menampiknya. Karena pada survei pertama yang dilakukan pada siswa SMA di kawasan Jakarta dan Bandung, memberikan hasil yang sangat mengejutkan.

baca juga:

Lulus Beasiswa Luar Negeri, Iqbaal Ramadhan Mau Bayar Hutang ke Indonesia

Kalau Mau Lulus, Murid Sekolah Al-Izhar Wajib Ikuti Program Pengembangan Karakter

Sekolah AL-Izhar Hadirkan Wajah Budaya Indonesia di Wales

“Sebanyak 2,4 persen siswa dalam penelitian ini masuk dalam kelompok inteloran aktif dan radikal. Sedangkan 0,3 persennya berpotensi menjadi teroris sehingga perlu adanya pengawasan dan diwaspadai,” kata Retno dalam Konferensi Pers Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Gedung KPAI, Jakarta, Selasa, (15/5).

Survei kedua yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) terhadap 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri, hasilnya tak kalah mencengangkan.

“Sebanyak 48,9 persen siswa bersedia melakukan aksi kekerasan yang berkaitan dengan agama dan moral. Survei yang dirilis tahun 2011 ini menunjukkan bahwa 63,18 persen siswa bersedia terlibat dalam penyegelan rumah ibadah penganut agama lain,” katanya.

Selain itu, ada juga penelitian di tahun 2017 yang dilakukan oleh mahasiswa S2 Paramadina. Mereka melakukan eksperimen terhadap 75 siswa SMA, dengan memberikan bacaan radikal. Alhasil, mereka sangat terkejut. Karena setelah diberi bacaan tersebut, pengaruh untuk melakukan aksi radikal dari siswa SMA ini semakin meningkat.

“Ini harus kita ketahui, karena berdasarkan penelitian Setara Institute, sekolah negeri menjadi tempat paling banyak terjadi rasa fanatik terhadap agama dibandingkan sekolah swasta dan keagamaan,” tambahnya.[]

terkait

Image
Image
Image

terkini

Image
Image
Image