KPAI: Guru Dibina, Murid akan Jauhi Paham Radikal

Lina Citra Rasmi

Image
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan pola pelibatan anak dalam jaringan terorisme terjadi di berbagai level, Selasa (15/5). | AKURAT.CO/Hery Supriyatna

AKURAT.CO, Kejahatan terorisme mulai menghantui lagi. Tragedi bom  gereja Surabaya, Sidoarjo hingga Mapolrestabes Surabaya mengisyaratkan betapa mudahnya ruang gerak para pelaku terorisme.

Naasnya, dalam teror bom ini mereka melibatkan anak sebagai pelaku demi melancarkan aksinya.

Retno Listyarti, anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, selain orang tua, para guru harus memiliki peran serta untuk menjauhkan anak didiknya dari pengaruh paham radikal. Mengingat siswa sekolah kini cukup rentan diracuni dengan paham-paham yang berbau radikal.

baca juga:

Catat, Pemkot Surabaya Gelar Operasi Daging Ayam Murah Mulai 23 Hingga 30 Juni

Penurunan Pajak UMKM 0,5 Persen Disambut Gembira Pelaku Usaha

Polri Kembali Tangkap Satu Terduga Teroris di Depok

“Dari sisi pendidikan, perlu berkontribusi dalam masalah ini. Karena, pendidikan kita saat ini tidak kritis. Selain itu tidak membangun ketajaman dalam berpikir, serta tidak membangun kepekaan dan kehalusan nurani (kepedulian),” kata Retno dalam Konferensi Pers Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Gedung KPAI, Jakarta, Selasa, (15/5).

Sehingga, diperlukan adanya pelatihan kepada guru-guru diseluruh mata pelajaran. Pelatihan yang dimaksud Retno tak hanya dalam segi cara mengajar atau kurikulum.

“Kita ingin guru seluruh mata pelajaran diberi pelatihan mengenai pemikiran untuk menghargai berbagai perbedaan, keberagaman, dan kebangsaan,” katanya.

Sehingga, para guru dapat menjauhkan siswa-siswanya dari godaan paham radikal yang banyak tersiar di media sosial maupun di lingkungan pertemanan mereka.

Apabila guru melihat siswanya memiliki gelagat aneh seperti membenci simbol negara, tak mau menyanyikan lagu kebangsaan, ataupun tak ikut upacara bendera, itu bisa menjadi indikasi dini siswa terjerumus paham radikal.

“Situasi tersebut jangan sampai didiamkan. Dekati mereka dan beri pengarahan supaya paham tersebut tak semakin mendarah daging dalam diri siswa,” kata Retno.

Retno menegaskan, para guru tak meracuni siswanya dengan paham radikal yang menjerumus. Apabila itu sampai terjadi, maka pemerintah akan bertindak tegas dengan memberikan mereka pembinaan.[]

terkait

Image
Image
Image

terkini

Image
Image
Image