Bom Surabaya

Catur Si Penjaga Gereja yang Dibom Teroris Itu Seorang Muslim

Adi Suprayitno

Image
Isak tangis mengiringi pemakaman Catur Giri Sungkowo, Sabtu (19/5/2018) | AKURAT.CO/Adi Suprayitno

AKURAT.CO, Isak tangis mengiringi pemakaman Catur Giri Sungkowo, Sabtu (19/5/2018). Catur merupakan salah satu korban kebiadaban keluarga teroris yang melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Minggu lalu.

Kakak korban sampai pingsan  ketika menyaksikan jenazah catur dimasukkan ke liang lahat.

Semasa hidup, Catur dikenal baik oleh keluarga dan warga sekitar rumah.

baca juga:

Tito : Polri Amankan 110 Terduga Teroris Terkait Bom Surabaya

Paska Pengeboman, Kapolri dan Panglima TNI Safari Ramadan ke Mapolrestabes Surabaya

Gerak Cepat Polri Tangani Teror Mendapat Apresiasi Tokoh Mathlaul Anwar

Tetangga menganggap kematian Catur merupakan sahid. Catur wafat di Rumah Sakit Soetomo Surabaya setelah tujuh  hari lamanya dalam keadaan koma karena 90 persen tubuhnya luka bakar akibat ledakan bom.
 
Jemaat GPPS Arjuno Surabaya Daniel mengatakan pada saat kejadian, Catur tengah melakukan pengamanan lingkungan sekaligus menjaga kendaraan jemaat yang melaksanakan ibadah.
 
Meski Catur beragama Islam, dia tetap ikhlas bekerja di lingkungan gereja. Catur, kata Daniel, tidak pernah membeda-bedakan pelayanan jemaat. 

“Setiap jemaat yang keluar masuk ke gereja selalu ditanya, mau kemana. Sehingga member perlindungan yang terbaik buat jemaat,” kata dia.
 
Ketua RW 7 Gunung Sari Budiono mengatakan sehari-hari di lingkungan rumah, Catur aktif bersosialisasi, terutama dalam kegiatan olahraga.

“Para tetangga mengklaim jika Catur Giri meninggal dunia sahid karena dalam kondisi bekerja,” kata dia.
 
Catur meninggal di usia ke 48. Dia meninggalkan seorang isteri dan seorang anak.

Bom bunuh diri di Kota Surabaya hari itu tak hanya menjadikan GPPS Arjuno sebagai sasaran, ada dua gereja lainnya yang diserang oleh satu keluarga teroris. []

terkait

Image
Image
Image

terkini

Image
Image
Image