Putu Wijaya: Kesenian di Negeri Kita Masih Menjadi Pengemis

Herman Syahara

Image
Pentas drama HELP! | ISTIMEWA

AKURAT.CO Sutradara Teater Tanah Air, Jose Rizal Manua, mementaskan naskah drama karya Putu Wijaya berjudul HELP! di Gedung Graha Bhakti Budaya, Sabtu (2/5) lalu secara gratis. Pementasan satu jam yang disaksikan sekitar seribu penonton itu merupakan pemanasan bagi pemain anak-anak dan crew yang totalnya 30 orang sebelum berangkat ke Festival Teater Anak-Anak Internasional ke-15 di Lingen, Jerman  (“15th World Festival of Children’s Theatre”) pada 22-29 Juni 2018 mendatang.  

Namun, untuk keberangkatan yang tinggal hitungan hari itu Jose Rizal Manua mengaku masih pontang-panting mencari sponsor kekurangan dana karena kekurangan dana. Bantuan yang didapat dari Dirjen Kebudayaan berupa tiket  dan Pemda DKI Jakarta masih jauh dari cukup.

Merasa prihatin dengan kekurangan ini, tiga perupa ikut membantu dengan menyumbangkan masing-masing satu lukisan mereka untuk dilelang, yaitu Tatang Ramadhan Bouqie, Baron Basuni, dan AR Sudarto.

baca juga:

Pentas drama HELP!. ISTIMEWA

Berikut adalah wawancara AKURAT.CO dengan penulis HELP!, Putu Wijaya, seputar tingkat kesulitan naskah itu dan masalah klasik pendanaan yang selalu dihadapi seniman setiap hendak mementaskan karyanya.

Setelah menyaksikan pementasan HELP! oleh sutradara Jose Rizal Manua, apa pendapat Anda sebagai penulis naskahnya?

Menurut saya sudah bagus. Namun masih banyak yang bisa dikembangkan. Misalnya adegan bayangan yang menggunakan layar itu, masih bisa ditingkatkan, meskipun memang  anak-anak sulit diatur. Agar lebih baik perlu latihan lebih banyak. Tapi yang penting ada kegembiraan. Karena buat anak-anak kan bukan mau menjadi artis tapi butuh kegembiraan.

Apakah pementasan itu sudah memenuhi persyaratan untuk tampil dalam Festival Teater Anak-Anak Internasional ke-15 di Jerman nanti?

Biasanya masyarakat luar negeri itu lebih spontan. Biasanya kalau ini dimainkan, mereka akan lebih masuk lagi ke dalamnya. Teater Tanah Air selalu kan selalu merebut juara pertama.

Jadi Anda  melihat ada peluang menang, ya?

Ada... ada...

Pentas drama HELP!. ISTIMEWA

Ini pertanyaan klasik, selalu ada keluhan kesulitan sponsor  jika seniman ingin mementaskan karyanya. Bagaimana solusinya?

Pertunjukan ini  sudah menjadi salah satu solusi.  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setahu saya membiayai lalu kita (seniman) membuat pementasan gratis dan anak-anak itu diajak nonton. Kalau nanti suka,  mereka akan terbiasa menonton dengan membayar.  Dan kalau tahu ada nilai pendidikan dalam suatu pementasan, pemerintah juga mau menyeponsori.

Jadi, bagaimana nasib kesenian kita saat ini?

Kesenian di negeri kita masih merupakan pengemis. Mudah-mudahan suatu ketika pemerintah akan menganggap kesenian sebagai asset. Tapi sekarang kasihan negara sedang banyak urusan. Biarlah kesenian mengurus dirinya sendiri dulu. Kita harus sabar menunggu. Meskipun tanpa sponsor kita harus berjuang. Kita harus berjalan terus.[]

terkait

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image