Masjid Tua Jakarta

FOTO ESAI Masjid Al Mansyur, Saksi Sejarah Pertempuran dengan Belanda

Sopian

Image
Masjid Jami Al Mansyur di Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat | AKURAT.CO/Sopian

Jakarta tidak lepas dari sejarah akan penyebaran Islam yang dilakukan oleh para pendahulu saat zaman penjajahan Belanda. Hal tersebut bisa dilihat dari bangunan masjid yang sudah berdiri sejak dahulu kala. Masjid Jami Al Mansyur merupakan salah satu masjid tua di Jakarta.

Masjid Jami al-Mansyur dulu bernama Masjid Jami Kampung Sawah. Pertama kali dibangun tahun 1130 H atau 1717 M oleh Abdul Malik putera dari Pangeran Cakrajaya yang sebelumnya bergabung dengan pasukan Mataram menyerang Belanda di Batavia.

Sejarah masjid ini tak lepas dari kiprah pahlawan nasional KH. Mohammad Mansur yang namanya kemudian di abadikan sebagai nama masjid Jami bersejarah ini dan nama jalan yang melintas tak jauh dari tempat ibadah tersebut.

Pada tanggal 25 Syakban 1356H/1937M dibawah pimpinan KH. Muhammad Mansyur bin H. Imam Muhammad Damiri diadakan perluasan bangunan masjid. Berturut kemudian, untuk menjaga terpeliharanya tempat suci serta makam-makam para ulama (di depan kiblat), maka di sekitar masjid dibuatkan pagar tembok, namun sekarang dibuat dengan besi.

Di masa awal setelah proklamasi kemerdekaan, Masjid Jami Al Mansyur digunakan oleh KH. Muhammad Mansur sebagai tempat mobilisasi pejuang sekitar Tambora untuk melawan Belanda. Sebuah pertempuran frontal pernah terjadi di muka masjid.

Terjadi baku tembak antara pejuang RI yang berlindung di masjid dengan tentara NICA yang kala itu masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa bergeser ke selatan menuju daerah Kota lalu menyebar ke sekitar Tambora.

Sebagai bentuk penghargaan kepada almarhum KH. Muhammad Mansur, pemerintah RI kemudian mengabadikan nama beliau sebagai nama Masjid tempat beliau berjuang ini sekaligus menjadi nama jalan persis di muka Jalan Sawah Lio II, Kelurahan Jembatan Lima.

Arsitektural Masjid Jami Al Mansyur merupakan akulturasi budaya Jawa, China, Betawi dan Arab. Masjid dengan atap joglo (limas), dua tingkat dan ditopang empat pilar besar berdiameter 1,5 meter.

Jendelanya hanya sebuah lobang segi empat berteralis kayu profil gada pada setiap sisi tembok. Model pintunya, berdaun dua dengan pahatan bulian. Kini, tembok, jendela dan pintu di semua sisinya dimajukan sejauh 10 meter.

Ruang utama masjid al Mansur yang sekaligus bangunan tertua, bersegi empat (12 x 14,4 m). Unsur yang mencolok adalah empat sokoguru yang kokoh dan tampak kekar di tengahnya. Bagian bawah tiang-tiang ini bersegi delapan dan diatasnya terdapat pelipit penyangga, pelipit genta serta rata.

Batang utama (di bagian tengah) berbentuk bulat dan dihiasi pelipit juga. Bagian teratas berbentuk persegi empat dan dibatasi pelipit. Pada ketinggian setengah diantara keempat sokoguru terdapat balok-balok kayu antara lain untuk menopang kedua tangga yang menuju ke loteng.

Pada tahun 1980 Masjid Jami Al Mansyur terdaftar sebagai benda cagar budaya, berdasarkan SK Mendikbud serta SK Gubernur DKI Jakarta. []

AKURAT.CO/Sopian

terkait

Image
Image

News

Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image