Masjid Tua Jakarta

FOTO Masjid Al Mukaromah, Syiar Islam Batavia Pertama di Kampung Bandan

Dharma Wijayanto

Image
Masjid Al Mukaromah Kampung Bandan | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Kisah penyebaran agama Islam di Batavia tidak lepas dari keberadaan Kampung Bandan. Dimana masjid Al Mukaromah Kampung Bandan berdiri di sisi utara jalan tol Pluit-Tanjungpriuk, tepatnya di jalan Lodan Raya.

Bangunan khas abad 18 menjadikan tempat ibadah itu dengan mudah ditemukan. Hanya saja, letak masjid Al Mukaromah tersebut sangat berhimpit dengan Jalan Lodan Raya, karena lahan terus terkena proyek pelebaran jalan.

Akibatnya, hanya sepeda motor milik jamaah saja yang bisa parkir di area masjid. Sementara, kendaraan roda empat parkir di tepian Jalan Lodan Raya.

Tiang-tiang rendah menyambut jamaah ketika baru masuk ke dalam masjid. Di aula masjid bagian luar tampak beberapa peziarah yang sedang beristirahat.

Masuk ke dalam ruangan, terdapat beberapa makam dari para habib mulia yakni makam Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi (wafat pada 23 Muharram 1118 H), Habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi (wafat 15 Ramadhan 1122 H), dan Habib Abdurahman bin Alwi Asy-Syathri (wafat 18 Muharam 1326 H), yang merupakan pendiri masjid itu.

Nama Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi dan Habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi merupakan tokoh ulama yang paling berjasa bagi penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada abad 16 sampai awal abad 17.

Masjid yang menampung hampir 1.000 orang tersebut didirikan pada 1789 oleh Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri, seorang ulama yang berdakwah di Jakarta. Hal itu berawal sekitar tahun 1870-an, datang ke rumah Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas di daerah Empang, Bogor, Jawa Barat.

Saat di sana, Habib Abdurrahman diminta menelusuri dua makam ulama besar, Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi dan Habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi yang telah berjasa bagi penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada abad 16 sampai awal abad 17. Saat itu, belum diketahui keberadaan makam dua habib itu. Hanya ada informasi dua habib berpengaruh tersebut dimakamkan di daerah Batavia.

Setelah melakukan pencarian, Habib Abdurrahman menemukan makam yang dimaksud. Lokasi makam yang berada di pesisir pantai yang saat itu dikelilingi rawa dan pepohonan. Habib Abdurrahman kemudian membuat bangunan kecil di dekat makam.

Lambat laun, semakin banyak para peziarah yang datang ke makam dua habib itu. Habib Abdurrahman akhirnya mendirikan sebuah surau dan merawat pemakaman keramat itu hingga akhirnya ia wafat dan digantikan oleh anaknya, Habib Alwi Asy-Sathri. Jenazah Habib Abdurrahman dikuburkan di samping kedua makam wali.

Berdasarkan referensi sejarah yang ada, penamaan Kampung Bandan berdasarkan kisah yang beredar di kalangan masyarakat sekitar. Cerita pertama, soal adanya cerita orang-orang dari Pulau Banda yang ditawan Belanda dan dibawa ke Ancol. Mereka lalu tinggal di sana. Karena pengucapannya, Banda kemudian biasa disebut Bandan.

Cerita kedua, dulunya di tempat itu banyak terdapat pohon pandan dan lambat laun masyarakat menyebutnya sebagai daerah Bandan atau Kampung Bandan.

Pada tahun 1972, Dinas Museum Purbakala Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memasukkan Masjid Kramat Kampung Bandan menjadi salah satu cagar budaya yang bangunannya harus dilindungi.

Keberadaannya sebagai saksi sejarah masih masih terlihat hidup, meski sudah mengalami tiga kali pemugaran. Yakni pada tahun 1979-1980, yang kedua pada tahun 1989-1990, dan yang terakhir pada tahun 2000-2001 dimana dilakukan peninggian pada bangunan masjid.

Meski dilakukan pemugaran besar-besaran, namun desain bangunan masih mempertahankan bentuk bangunan pertama, agar menjaga keaslian dan nilai dari sejarah dari masjid itu sendiri.

AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

terkait

Image
Image
Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image