HERVIN SAPUTRA

Piala Dunia Adalah Beban Bagi Nama-nama Besar

Hervin Saputra

Piala Dunia Rusia 2018

Image
Pemain Timnas Argentina Lionel Messi menundukkan kepalanya di lapangan saat bertanding melawan Timnas Prancis dalam laga 16 besar Piala Dunia Rusia 2018 di Stadion Kazan Arena, Kazan, Rusia, 30 Juni 2018 REUTERS

AKURAT.CO, Bersama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, semuanya menjadi "individual". Namun, Piala Dunia telah memberikan tamparan bagi dominasi rivalitas Messi-Ronaldo melewati apa yang sudah mereka lakukan dalam sepuluh tahun terakhir.

Barangkali dimulai sejak Pep Guardiola datang ke Barcelona pada musim panas 2008, ketika itulah dunia perlahan melihat Messi sebagai individu yang, dalam ucapan bek Tim Nasional Spanyol, Gerard Pique, adalah "makhluk dari planet yang berbeda".

Di musim 2008-2009, keberbedaan Messi telah membawa enam gelar dalam sekali sapu bersama Barcelona yang belum pernah terulang hingga saat ini. Sejak 2008, Messi telah menjadi sosok puncak barcelona dalam tiga gelar Liga Champions, tujuh gelar La Liga, dan enam Piala Raja.

baca juga:

Pochettino: Kane Sangat Kecewa dengan Performa Timnas Inggris

FA Segera Perpanjang Kontrak Southgate

Neymar Ungkap Kebenaran soal Aksi 'Lebay' di Piala Dunia

Guncangan di Katalunya menimbulkan reaksi di ibukota Spanyol. Real Madrid memberikan respons yang kelak menciptakan duopoli individual dalam gelar individual seperti Ballon D'Or dengan memboyong Cristiano Ronaldo dari Manchester United di musim setelah Barcelona merebut trigelar pertama sepanjang sejarah.

Sejak saat itu, trofi Ballon D'Or hanya berpindah dari Ronaldo ke Messi dan kembali Ronaldo lagi. Dan di tahun-tahun Piala Dunia, Ballon D'Or justru memberikan penghargaannya terhadap Messi dan Ronaldo sekalipun dua pemain ini tak jua mendapatkan impiannya untuk menyentuh trofi paling bergengsi tersebut.

Pada awal 2011, sejumlah jurnalis dikabarkan datang ke rumah mantan gelandang Barcelona, Xavi Hernandez, hanya untuk menanyakan pendapatnya tentang Ballon D'Or yang menjadi milik Messi. Padahal, di tahun itu Xavi membantu Barcelona meraih La Liga, Piala Raja, dan yang paling mengesankan adalah menjadi pemain kunci dalam kesuksesan Spanyol merebut Piala Dunia Afrika Selatan 2010.

"Ayolah kawan, masa saya harus membenci Leo?" ucap Xavi kala itu.

Bagi pendukung Barcelona, embusan isu yang menyebut "Messi merampok Ballon D'Or dari tangan negara mereka" dianggap sebagai perang urat syaraf yang dilepaskan pihak Madrid.

Tetapi, yang jelas Xavi Hernandez sempat menahan sentakan ketika Pep Guardiola mengumumkan bahwa Ballon D'Or menjadi milik Messi di malam penghargaan yang digelar di Zurich, Swiss.

Empat tahun kemudian di kota yang sama, setelah Jerman membatalkan ambisi Messi untuk menjuarai Piala Dunia di Brasil, Ballon D'Or justru beralih ke tangan Cristiano Ronaldo yang membawa Real Madrid merebut gelar Liga Champions 2013-2014.

Dalam tiga nominasi teratas, Ronaldo membawahi Messi, dan, kiper Tim Nasional Jerman, Manuel Neuer. Sebagaimana yang terjadi pada 2010, gelar Piala Dunia belum bisa menggeser "puncak penghargaan individu" dari tangan Messi dan Ronaldo.

Dan ketika pada 2018 Messi-Ronaldo kembali ke Piala Dunia dalam satu dekade dominasi mereka, sepertinya Ballon D'Or akan lepas dari tangan kedua pemain ini. Sekalipun keduanya memberikan hasil mengagumkan bersama klub, namun dominasi individu telah menuntut keduanya untuk melakukan pembuktian di turnamen yang belum pernah mereka menangi, dan sayangnya, adalah gelar paling bergengsi yang pernah ada.

Tersingkirnya Argentina dan Portugal di Piala Dunia Rusia telah membuat publik "menghapus" apa yang telah mereka capai di klub pada musim ini. Perlu diingat, Ronaldo menciptakan sejarah dengan membawa Madrid sebagai tim pertama yang meraih tiga gelar Liga Champions secara beruntun. Sementara itu, Messi membawa Barcelona meraih gelar La Liga ketujuh sebagai bagian dari dominasi El Barca di La Liga dalam satu dekade terakhir.

Cristiano Ronaldo. REUTERS/Sergio Perez

Fenomena Messi-Ronaldo di Piala Dunia 2018 tak lain adalah imbas dari perkembangan global sepakbola yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi media. Siaran televisi dan media sosial telah membawa wajah Messi-Ronaldo hingga ke tempat-tempat yang "melampaui" sepakbola itu sendiri.

Ronaldo, misalnya, cukup dicintai di negara Timur Tengah karena sikapnya yang menentang pendudukan Israel terhadap Palestina. Dan Messi harus sepakat untuk membatalkan laga uji coba Argentina versus Israel di Jerusalem menjelang Piala Dunia 2018 setelah Federasi Sepakbola Palestina menuntut laga tersebut dibatalkan.

Fenomena popularitas Messi-Ronaldo yang telah melampaui "sepakbola" itu juga membuat mereka berjalan ke Rusia dengan kepala yang berat. Messi, misalnya, menampilkan ekspresi yang gundah dengan memegang jidatnya ketika Argentina dikalahkan Kroasia 0-3 dan disingkirkan Prancis 3-4 di babak 16 besar.

Dengan kekecewaan yang melanda dua pesepakbola terbesar di Rusia, maka apa yang tersisa bagi para pencinta sepakbola?

Tanpa Messi dan Ronaldo, Piala Dunia tahun sedikit kekurangan desir untuk melihat manusia terbaik pada pekerjaan yang digairahinya. The show must go on. Namun, pesepakbola terbaik telah absen.

Sebagai generasi yang belum menyadari era Maradona apalagi Pele, bagi saya rasa-rasanya Piala Dunia kali ini jauh lebih "murung" ketimbang kegembiraan yang selalu ditawarkan pada ingatan terhadap Piala Dunia sebelumnya.

Sukses Pele dan Maradona di Piala Dunia telah menahbiskan mereka sebagai pesepakbola terbaik di abad ke-20. Piala Dunia di era Pele dan Maradona telah dihidupkan secara heroik oleh individu terbaik, sesuatu yang justru tidak terjadi di era Messi dan Ronaldo.

Percayalah, menjadi pemain terbaik di masa kini jauh lebih berat dibandingkan dengan masa tiga puluh, empat puluh, atau lima puluh tahun yang lalu. Perkembangan media massa telah membawa pesepakbola zaman kini kepada beban popularitas yang juga ditandai dengan kemakmuran finansial. Perkembangan yang, barangkali, tidak dicecapi oleh Pele dan Maradona.

Pele, misalnya, datang ke Piala Dunia 1958 sebagai pemuda 18 tahun yang baru bermain dua musim di klub Liga Brasil, Santos. Dan Piala Dunia telah membawa namanya. Ingat, popularitas Pele dibesarkan oleh Piala Dunia, bukan oleh Santos.

Di masa yang lebih maju, Maradona datang ke Meksiko 1986 sebagai bintang Napoli yang sempat gagal bersinar di Barcelona. Sungguhpun Maradona membawa Napoli menjuarai Liga Serie A Italia pada musim 1986-1987 dan 1989-1990, Si Tangan Tuhan - julukan Maradona - lebih dulu dipopulerkan oleh Piala Dunia 1986.

Perbedaan signifikan antara Pele, Maradona, dan Ronaldo-Messi adalah popularitas Ronaldo-Messi tidak dibesarkan oleh Piala Dunia, melainkan klub. Dan oleh sebab itu, mereka datang ke Piala Dunia tidak dalam status "low profile", sekalipun untuk menjadi bintang sekelas Messi dan Ronaldo seseorang haruslah memiliki sikap rendah hati yang di atas rata-rata.

Untuk Rusia 2018, masih ada hiburan karena Anda masih bisa menyaksikan Brasil, Prancis, dan dua kandidat juara baru dalam diri Tim Nasional Kroasia juga Belgia.

Lalu, bagaimana kabar Messi dan Ronaldo? Untuk Ronaldo, Pelatih Portugal, Fernando Santos, meminta sang kapten tak meninggalkan tim nasional pasca mereka dikalahkan Uruguay di babak 16 besar Piala Dunia 2018. Namun, berharap Ronaldo bermain di Qatar 2022 berarti pula mengharapkan bocah Madeira itu masih bisa berlari di usia 37 tahun.

Messi mungkin sedikit lebih beruntung karena usia membuatnya masih berpeluang punya cadangan terakhir. Jika jadi digelar di Qatar pada 2022, Messi akan menjadi pemain senior dengan usia 35 tahun.[]

 

terkait

Image
Image
Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image