Masjid Tua Jakarta

FOTO ESAI Masjid At Taibin, Saksi Bisu Sejarah Bangsa nan Terabaikan

Endra Prakoso

Image
Masjid At Taibin, Senen, Jakarta Pusat | AKURAT.CO/Endra Prakoso

Masjid At Taibin, sebuah rumah ibadah di tengah kota yang telah dibangun sejak ratusan tahun silam. Masjid ini punya sejarah panjang di balik perjalanannya hingga saat ini.

Pada tahun 1815, masjid yang berlokasi di kawasan Pasar Senen itu berdiri. Namun saat itu bukan At Taibin namanya, melainkan Masjid Kampung Besar.

Menurut imam Masjid At Taibin, Dadang Muchlis, namanya bersumber dari lingkungan daerah tersebut, orang-orang menyebutnya dengan julukan Kampung Besar.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1950 namanya berubah menjadi Masjid Imroni'ah, sesuai dengan nama pengurusnya kali itu, yaitu Imron. Pada akhirnya, nama itu diubah untuk ketiga kalinya menjadi At Taibin. Nama yang bertahan hingga saat ini sejak 1970.

Setelah pergantian nama tersebut, masjid ini penuh dengan lika-liku kejadian pahit. Kampung Besar, pemukiman di sekitarnya harus digusur oleh para pemilik modal tuk dijadikan hunian vertikal.

Tak tinggal diam, warga yang masih peduli dengan rumah ibadah itu melakukan perlawanan. Hingga pada akhirnya tidak mengalami penggusuran.

Sebelumnya pada masa penjajahan Belanda, tempat tersebut sangatlah berarti. Warga melakukan perlawanan terhadap jajahan negeri 'Kincir Angin' tersebut, meletakkan semua logistik pertempuran di masjid ini.

Karena dinilai memiliki sejarah, pemerintah menetapkan Masjid At Taibin menjadi cagar budaya pada tahun 2002.

Dadang menjelaskan, bangunan itu telah direnovasi sebanyak tiga kali. Namun, renovasi dan bantuan terakhir dikucurkan oleh pemerintah pada tahun yang sama saat penetapan cagar budaya di tahun 2002.

Hingga kini, para pengurus masjid hanya mengandalkan infak dari umat untuk memenuhi semua kelengkapan rumah ibadah itu. Beberapa tahun yang lalu, mereka baru saja memperbaiki atap yang sangat tidak layak. Tak main-main, dana yang dikeluarkan menembus angka lebih dari Rp100 juta.

Mereka telah meminta bantuan ke sejumlah instansi pemerintahan, bahkan ke anggota DPR RI dari sejumlah fraksi. Tetapi hasilnya tak sesuai dengan apa yang diharapkannya, yaitu nihil.

Untuk menuju ke masjid At Taibin dari arah Pasar Senen, jamaah harus menyeberangi Jalan Senen Raya. Seperti yang kita tahu bahwa jalan tersebut adalah jalan utama dimana kendaraan kecil dan besar berlalu-lalang. Karena ketiadaan rambu atau sarana untuk membantu menyeberang, tak sedikit orang celaka. Umumnya, kejadian yang menimpa para jamaah adalah terserempet atau bersinggungan dengan kendaraan.

Atas kejadian tersebut, para pengurus kembali meminta kepada aparatur terkait agar dipasang rambu, yang minimal adalah lampu lalu lintas dengan tambahan zebra cross.

Usulan tersebut kembali tak didengar. Dadang mengatakan dirinya dan rekan pengurus lainnya telah lelah meminta bantuan dan meminta kepada para abdi negara tersebut.

Lebih lanjut, imam masjid itu juga menambahkan bahwa At Taibin sangat penuh dengan kegiatan setiap harinya. Usai salat Zuhur, jamaah yang hadir bisa disejukkan hatinya dengan mendengarkan ceramah dari ustaz yang diundang.

Kegiatan itu hanya berlangsung pada hari kerja saja, dari Senin hingga Jumat. Ibu-ibu yang bermukim di sekitar masjid juga mengadakan kajian majelis taklim pada hari Senin pagi.

Kini Masjid At Taibin seakan tenggelam diantara gedung-gedung pencakar langit di Jakarta Pusat. []

AKURAT.CO/Endra Prakoso

terkait

Image
Image
Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image