Begini Kisah Menegangkan Kartunis GM Sudarta di Masa Orde Baru

Herman Syahara

Image
Penyair dan novelis Waluya Dimas dan GM Sudarta (Foto Dokpri Waluya Dimas). | Dok. Pribadi

AKURAT.CO, Kartunis legendaris Indonesia, Gerardus Mayela (GM) Sudarta telah meninggalkan kita dan dunia karikatur  yang dicintainya, Sabtu (30/6) dalam usia 73 tahun.

Setelah dikremasi  di Krematorium Sentra Medika, Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (2/7) abu jenazah dibawa ke Yogyakarta untuk kemudian disimpan di Museum Sapto Hoedojo, sesuai permintaan almarhum semasa hidup. 

Banyak kisah masa kecil dan  remaja GM Sudarta yang belum terungkap di media massa. Misalnya, dia suka melukis di papan tulis lalu memajang karyanya di pohon mangga di depan rumahnya di Klaten, Jawa Tengah. Dia juga ternyata salah seorang perupa yang membuat diorama di Monas Jakarta, tahun 1960-an.

baca juga:

Berikut adalah kesaksian sahabat masa kecil GM Sudarta di Klaten, Jawa Tengah,  Waluya Dimas yang kini sekitar 72-an tahun. Mantan aktivis semasa Orba  yang kini  berprofesi sebagai penyair dan  novelis  menuturkan kisah  ini dari rumahnya di Melbourne, Australia, secara khusus kepada AKURAT.CO. 

Dia menyebut  GM Sudarta dengan panggilan Mas Tok, karena berusia lebih muda. Berikut petikannya:

"Di masa kanak-kanak tahun 1950-an di Klaten, rumah Mas Tok tak jauh dari  rumah keluargaku. Mas Tok tinggal di Somotarunan dan aku di Candirejo. Tiap hari aku lihat dia bikin gambar di papan tulis dan dipasang di bawah pohon mangga menghadap ke jalan. Gambar  di papan tulis selalu digantinya tiap hari. 

Mas Tok sekolah Sekolah Rakyat Bank Rakyat dekat rumahnya yang lalu pindah ke gedung baru  di Damaran. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri I yang dekat  rumahnya dan lanjut ke  SMA Negeri dekat stadion. Sedangkan aku melanjutkan  ke Sekolah  Rakyat Latihan II Di samping  Kodim, lanjut ke  SMP II,  kemudian ke SMEA Negeri di Sungkur.

Mas Tok suka main Band dan dia ahli main ketipung. Kami suka ngumpul di Rumah teman kami Ma'ful  dekat Pasar Mlinjon karena Ma'ful selalu punya buku-buku sastra dan majalah Sastra. Kami juga suka ikut kumpul-kumpul di Pendopo Kabupaten Klaten yang ketika itu putra Bupati Pusat aktif dalam teater. Di grup inilah  kami bertemu dengan aktor Deddy Sutomo dan kartunis Sinar Harapan  Bambang Subendo yang waktu itu merupakan senior kami.

Waktu kami  masih sekolah,  Klaten menjadi  ajang pertarungan Ideologi. Banyak test case politik di Klaten seperti tentang "bagi hasil" yang memakan korban  nyawa. Aku sering menginap di rumah  Mas Tok dan tidur  seranjang. Kadang harus  pindah  tidur di lantai  bila abang dia datang dengan pacarnya sebelum kawin. 

Walau  kami sudah di SLTA   tapi  sangat naif  dan takut pada cewek. Jadi semalaman kami tak tidur dan hanya bicara  dan membayangkan  apa yang Mas Tris, Abang Mas Tok, lakukan. Mas Tok dan aku tidak mempan diindoktrinasi dan tak sedia ikut-ikutan dalam kelompok  politik. Waktu itu  sedang ramai-ramainya  gerakan anti imperialisme  kebudayaan asing.

Dan aku secara sembunyi-sembunyi mendengarkan radio untuk belajar  bahasa Inggris  dan menikmati musik. Kami memang harus hati-hati. Sampai sebelum kutinggalkan Indonesia aku tidak pernah  menunjukkan bahwa aku bisa bahasa Inggris.

Mas Tok lihai main ketipung, melukis,  juga menulis puisi. Sedang aku nulis cerpen dan puisi. Mas  Bambang  Subendo "meramalkan", Darta (GM Sudarta) akan sukses sebagai penyair  dan aku sebagai  cerpenis.

Mas Tok tahun 1960-an kemudian berangkat ke  Jakarta dengan rombongan mahasiswa ASRI untuk membuat  diorama  di Monas lalu dia bergabung menjadi  karikaturis di Surat Kabar Kompas. Aku ke  Jakarta  beberapa  tahun kemudian atas ajakan dan dorongan penyair Mas Oyik Satyagraha  Hoerip.

Beberapa bulan aku menumpang  di rumahnya di Slipi, Jakarta Barat, sebelum jadi penghuni gedung  Balai Budaya di Menteng, Jakarta Pusat, dengan hidup tak menentu karena hanya mengandalkan makan dari hasil menulis  yang tak seberapa. Jika kesulitan,  aku sering  minta  tolong Mas Tok yang telah sukses sebagai kartunis Kompas.

Namun, karena  kesibukan demonstrasi  sejak dicetuskannya gerakan "golput",  aku harus  membatasi  pergaulanku dengan teman-teman,  supaya mereka  jangan ikut terlibat dengan apa yang kulakukan sebagai aktivis. 

Mas Tok dan aku dapat pengawasan yang keras karena bukan saja kami berasal  dari Klaten, juga karena  karikatur Mas Tok tidak disukai pejabat. Sedangkan aku diawasi  karena pemerintah  tidak percaya pada  posisi independenku.

Bukan rahasia, jumlah demonstran  waktu itu sedikit.  Kebanyakan dari mereka " demonstran" itu  adalah undercover (penyamar) dari Hankam, Kopkamtib polisi, dan unsur pemerintah lainnya. 

Saat itu, Pemerintah memang  punya kepentingan agar  terus ada  demontrasi di Jakarta sehingga bisa  diarahkan (dimanfaatkan) sebagai  publikasi untuk menunjukkan  adanya  kebebasan bicara. Bagi pemerintah ini penting  sebagai  salah satu syarat (pencitraan) untuk memuluskan dukungan IGGI  agar Indonesia  dapat  utang.

Oh ya, cerita tentang proyek pembuatan diorama Monas yang diikuti Mas Tok,   itu  kacau karena perubahan politik dan salah satu akibat  adanya keharusan koran-koran punya afiliasi dengan parpol tertentu. Koran Kompas,   Sinar Harapan,  Nusantara, dan Mercu Suar,  lahir karena itu.  

Juga ada penyederhanaan  parpol. Seingatku jadi sembilan. Lalu untuk memenangkan Orba dan menelikung Kaum Nasionalis  dijadikan tiga partai  saja, yaitu Golkar,  Kelompok  Partai Muslim, dan partai gabungan  Katolik Kristen PNI. Sehingga orang "muslim" tak akan memilih partai terakhir ini. Sedangkan anggota  Angkatan Bersenjata serta PNS  harus masuk Golkar. Partai pun  dilarang masuk desa.

Itulah sebagian masa kecil dan remajaku dengan Mas Tok. Pertemuan terakhirku dengannya terjadi ketika  aku dan "adikku" berkunjung Nopember  2016 ke rumanya untuk minta dibuatkan sket sebagai hadiah ulang tahunnya. Sejak itu kami tak pernah bertemu lagi sampai Mas Tok wafat."[]

 

terkait

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image