ALAMI Bidik Perluas Kemitraan dengan Lembaga Keuangan Syariah

Prabawati Sriningrum

Image
Romy Buchari – Head of Syndication & Capital Markets Emirates Islamic Bank, Riawan Amin Tokoh Perbankan Syariah Indonesia, Dima Djani CEO ALAMI, Tasya Kamila dan Adiwarman Karim CEO of Karim Consulting dalam acara soft launching platform ALAMI dan diskusi " Islamic Banking 4.0: The Rise of Technology and Sharing Economy” di Westin Hotel, Jakarta, Senin (4/6) | Dok. ALAMI

AKURAT.CO, Perusahaan teknologi finansial (tekfin) aggregator syariah pertama di Indonesia ALAMI ingin semakin fokus menjaring kemitraan dengan lembaga-lembaga keuangan syariah di tanah air. Hal tersebut guna membuka akses bagi pelaku usaha terhadap pembiayaan syariah lewat model aggregator.

CEO dan Founder ALAMI Dima Djani mengungkapkan, Indonesia saat ini sudah memiliki cukup banyak lembaga keuangan syariah yang siap mendukung pengembangan ekonomi umat dengan sistem pinjaman bebas riba. Melalui model bisnis aggregator, ALAMI ingin mendukung penguatan posisi institusi jasa keuangan syariah Indonesia di masyarakat yang lebih luas lagi.

“Saat ini kita memiliki setidaknya 13 bank umum syariah yang siap menyalurkan dana kepada umat. Melalui positioning kami sebagai perusahaan tekfin aggregator syariah, ALAMI memiliki keunggulan untuk mempertemukan layanan perbankan tadi ke calon-calon nasabah yang ingin memperbesar skala usaha namun tetap dalam koridor syariah,” tutur Dima dalam rilisnya di Jakarta, Minggu (8/7).

baca juga:

Pemkab Cianjur Resmikan Pasar Syariah

Dua Anggota Densus 88 Alami Luka-luka Saat Baku Tembak dengan Terduga Teroris

Menkop: Banyak Koperasi Dibubarkan karena Nggak Aktif

Seperti diketahui, ALAMI merupakan salah satu contoh sukses dari sebuah perusahaan yang menjadikan aggregator sebagai model bisnisnya. Perusahaan yang berdiri sejak akhir tahun 2017 ini memiliki fokus untuk menjembatani pelaku usaha ke akses pembiayaan syariah yang dimiliki oleh perbankan syariah di Indonesia. Platform digital ALAMI memungkinkan calon nasabah untuk mendapatkan informasi perbankan yang sesuai dengan kondisi keuangan usahanya untuk melakukan pembiayaan modal dalam rangka ekspansi bisnis.

Berdasarkan data dari Asosiasi Fintech Indonesia tahun 2018, saat ini terdapat 235 perusahaan fintech dimana 26 di antaranya bergerak di bidang market aggregator. Adapun jasa yang ditawarkan oleh banyak perusahaan aggregator ini adalah menghubungkan konsumen (end-user) kepada perusahaan yang memiliki jasa, produk atau layanan tertentu.

Perusahaan aggregator ini kemudian bertugas untuk mengonsolidasi dan menstandarisasi sebelum didistribusikan lewat mekanisme platform digital.

Lebih lanjut Dima mengungkapkan, ditengah arus informasi dan perkembangan teknologi yang kian cepat, perusahaan aggregator bisa menjadi kunci untuk membantu masyarakat menentukan pilihannya terhadap produk, layanan dan jasa yang paling sesuai. Di sisi lain, perusahaan aggregator juga membantu merekatkan banyak aspek dalam ekosistem digital yang mampu bekerja sama dengan ekosistem konvensional, misalnya saja di sektor keuangan.

Meskipun demikian, bisnis ini tetap memiliki risiko sama halnya dengan bisnis lainnya. Sehingga didalam ekosistem digital, model bisnis aggregator perlu punya value-add agar dapat memberikan solusi yang optimal bagi nasabah. 

Terlebih, jangan sampai end-user atau konsumen menilai keberadaan aggregator justru menambah kerumitan saat mereka ingin mengakses layanan dari penyedia jasa.

" Ini adalah risiko yang perlu dikelola untuk menjaga masa depan bisnis, karenanya di ALAMI, kami selalu berupaya memberikan value added service (VAS)dalam layanan kami. Misalnya proses credit scoring yang cepat dan transparan, penyampaian informasi yang jelas dan mudah dipahami oleh end-user, serta tampilan platform digital yang tidak ribet,” paparnya.

Menurutnya, dengan kecanggihan platform digital dapat menjadi solusi untuk memastikan bisnis aggregator tetap potensial di masa depan. Terlebih dengan teknologi yang kian berkembang pesat tidak menutup kemungkinan untuk para penyedia jasa mengembangkan sendiri kapasitas teknisnya, dimana kebutuhan akan bantuan pihak aggregator menjadi tidak lagi relevan.[]

terkait

Image
Image
Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image