Nasionalisme telah Membuat Popularitas Timnas U-19 Menyaingi Piala Dunia

Hervin Saputra

Piala AFF U-19 2018

Image
Ekspresi suporter Timnas Indonesia U-19 merayakan kemenangan usai bertanding melawan Timnas Vietnam U-19 dalam laga penyisihan Grup A Piala AFF U-19 2018, di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (7/7/2018). Indonesia berhasil lolos ke babak semi final dengan gol tunggal Muhammad Rafli Mursalim atas lawannya Timnas Vietnam U-19. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO, Seorang warganet mengaku menangis setelah menyaksikan gol yang terjadi dalam laga penyisihan ketiga Grup A Piala AFF U-19 2018 antara Tim Nasional Indonesia U-19 dan Tim Nasional Vietnam U-19. Ia menuliskan pengakuan itu di laman Facebook-nya, dan, dengan demikian dibaca oleh orang-orang yang terhubung dengannya.

Di akhir "statusnya", ia tak lupa menuliskan hashtag #AFF. Hashtag itu membuat saya mereferensikan bahwa gol yang membuat si warganet menangis itu adalah gol yang dicetak oleh Rafli Mursalim diawali aksi individual Todd Rivaldo Ferre yang membuat Indonesia menang 1-0 atas Vietnam di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (7/7).

Gol itu sekaligus memastikan Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF U-19 dengan catatan menyapu bersih semua laga dengan raihan 12 angka. Total, pasukan Indra Sjafri mencetak sepuluh gol dan kebobolan satu. Tiga di antara empat laga diakhiri dengan clean sheet.

baca juga:

Todd Rivaldo Akui Butuh Waktu Lama Samai Prestasi Boaz

Pelatih Malaysia Minta PSSI Didik Suporter

Indra Sjafri Minta Suporter Timnas U-19 ‘Move On’ dari Era Evan Dimas

Di "pelataran" catatan statistik itu, si warganet menambahkan "nuansa" dengan membubuhkan frasa seperti "demam bola". Gambaran yang membuat saya berpikir bahwa "demam" yang dimaksudkannya bukan semata karena Piala AFF di Sidoarjo, tetapi gegap-gempita di Rusia untuk Piala Dunia 2018.

Persis setelah laga Indonesia U-19 dan Vietnam U-19 berakhir, televisi menyiarkan laga perempat final Piala Dunia 2018 antara Inggris bertarung menghadapi Swedia dan pada dini harinya, tuan rumah Rusia menjamu Kroasia.

Indonesia U-19 vs Vietnam U-19. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Apa poinnya?

Ini tentang bagaimana industri sepakbola menciptakan perbandingan tentang perasaan keterikatan terhadap tim nasional. Apakah masuk akal gol kemenangan Indonesia U-19 atas Vietnam layak untuk dirayakan dengan air mata? Padahal, laga itu hanyalah penyisihan turnamen usia 19 tahun yang hanya diikuti oleh sebelas negara di kawasan Asia Tenggara?

Konteksnya adalah pertandingan Indonesia-Vietnam itu digelar bersamaan dengan pekan Piala Dunia 2018 memasuki fase-fase krusialnya. Dengan kata lain, Piala Dunia telah membuat hari-hari dalam tiga pekan ini dipenuhi dengan pertandingan, dan dalam kemeriahan itu, ada turnamen regional yang diikuti Indonesia, dan, popularitasnya bisa menyaingi laga Piala Dunia.

Ok, di Indonesia bukanlah hal aneh sebenarnya jika laga tim nasional menarik perhatian penonton. Namun, di tengah Piala Dunia?

Di titik ini, sepertinya sepakbola memainkan "spektrum" nasionalismenya. Dengan kata lain, sekuat apapun Anda mendukung salah satu negara kontestan Piala Dunia 2018, mengapa ada orang, yang boleh jadi bukan hanya satu orang, yang menitikkan air mata untuk sebuah gol di Sidoarjo?

Di hadapan Piala Dunia, kita melihat 32 tim yang diwakili oleh bendera negara mereka. Anda boleh saja pendukung Messi untuk Argentina atau Portugal melalui Cristiano Ronaldo, tetapi, sebagai anggota "masyarakat gila bola", warga negara ini tidak akan menemukan bendera mereka di sana.

Dan secara kebetulan, Anda menemukan bendera Anda sendiri, Anda melihat jersey tim nasional Anda sendiri, pada para remaja yang bermain di Piala AFF. Secara natural, dan Anda tidak bisa menghindarinya, bahwa Anda memiliki sense of belonging pada Garuda Muda - julukan Timnas U-19 - yang tidak Anda rasakan pada negara dukungan Anda yang berlaga di Rusia.

Sesi Latihan Timnas Indonesia U-19. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Lebih dari itu, sejak menjuarai Piala AFF 2013, Indonesia tak pernah lagi menyentuh trofi. Bahkan di regional Asia Tenggara sekalipun. Ada dahaga di sana.

Sebagai bangsa, hiruk-pikuk sepakbola ini telah ditumpahkan kepada Tim Nasional U-19 di Piala AFF. Namun, dari sisi sepakbola "murni", tim nasional Indra Sjafri dalam pendaratannya yang ketiga ini cukup menjanjikan untuk menyiram kerongkongan yang gersang dari gelar juara itu.

Dengan sepuluh gol dalam empat kemenangan, Timnas U-19 kini tak pelak berada dalam ambang kepercayaan diri. Di bawah kendali Indra Sjafri, Timnas U-19 memainkan permainan penguasaan bola, skill individu, dan keberanian untuk menerapkan bola direct ke arah sayap.

Bersama Indra, penampilan seperti ini bukanlah yang pertama. Mantan pemain PSP Padang itu pernah mempersembahkan gelar pada turnamen yang sama lima tahun lalu. Sebagian dari pemain di era itu kini naik kelas ke Timnas U-23 dan senior. Gelandang klub Liga Super Malaysia, Selangor FA, Evan Dimas Darmono, adalah salah satunya.

Selain itu, statistik menunjukkan permainan yang ditampilkan Nurhidayat Haji Haris dan rekan seakan-akan berada di atas rata-rata lawan yang dihadapi di grup A. Labbola mencatat, dalam tiga laga perdana menghadapi Laos, Singapura, dan Filipina, Timnas U-19 menguasai permainan dengan rata-rata kepemilikan bola di atas 70 persen.

Catatan tertinggi ada pada laga kontra Singapura di mana Indonesia melepaskan 744 umpan. Sementara yang terendah adalah 62 persen ketika Indonesia memainkan 542 umpan saat mengalahkan Vietnam 1-0 di laga terakhir, Sabtu (7/7).

Total, dalam empat laga, Indonesia mencetak sepuluh gol, satu kebobolan, dan mencatatkan 71 tembakan percobaan. Di klasemen, untuk sementara Indonesia menjadi pemimpin dengan 12 angka, membawahi dua negara terbesar dalam persaingan sepakbola Asia Tenggara, Thailand dan Vietnam.

Namun demikian, jika ingin tetap mempertahankan perhatian, tak ada jalan lain bagi Timnas U-19 selain terus menunjukkan dominasi yang membawa kemenangan. Tanpa kemenangan, berapapun banyak umpan yang dilepaskan, gairah publik tidak akan terpuaskan.

Terlalu jauh untuk menyebut gelar juara karena pasukan Indra Sjafri harus memikirkan laga per laga. Sukses lolos ke semifinal memang patut dirayakan, namun itu belum apa-apa karena harapan publik adalah gelar.

"Saya pesan tim ini jangan terlalu digembar-gemborkan, jadi biasa saja. Kita harus tetap tenang karena masih ada lawan Thailand dan target kita tetap harus menang," kata Indra Sjafri usai laga kontra Vietnam.

Untuk menuju gelar juara, Indonesia harus menempuh tiga laga lagi. Namun, yang jelas, penampilan Timnas U-19 di AFF 2018 tahun ini memberikan semacam anomali karena mereka bisa menjadi tontonan dengan rating paling tinggi menyaingi Piala Dunia.

"Kemenangan ini sangat spesial bukan karena lawan Vietnam, tapi suporter yang hadir (di Stadion Gelora Delta Sidoarjo) 25.165 orang, itulah yang menurut saya sangat spesial. Rating TV Timnas U-19 juga menjadi nomor satu dari semua acara," ucap Indra Sjafri.

"Mana ada penonton yang sampai 25 ribu hanya di penyisihan? Bayangkan kalau final mungkin harus di pindah ke GBK."

Indra Sjafri. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Soal jumlah penonton, Indra Sjafri tidak salah. Antusiasme itulah yang selama ini menjadi modal sepakbola Indonesia meski prestasi tim nasional belum juga menunjukkan hasil yang mampu bersaing. Dan bicara soal rating televisi, itu berarti pertandingan Tim Nasional U-19 telah mendatangkan laba.

Dalam sepekan ini masih ada Piala Dunia, turnamen bulutangkis Indonesia Terbuka 2018 yang hari ini memasuki babak final, pekan ke-14 Liga 1 Indonesia 2018, Wimbledon di Inggris, tetapi timnas tetaplah timnas.

Sekadar kembali ke 2013 ketika Indra Sjafri membawa Evan Dimas dan tim menjuarai Piala AFF U-19 di tempat yang sama, gelar U-19 sudah seharusnya dilihat sebagai kerangka masa depan, bukan pencapaian yang utama.

Sebab, generasi 2013 yang kini bermain untuk Timnas U-23 dan senior belum memberikan hasil yang maksimal sebagai bagian tim yang dulu pernah menjanjikan - tak berbeda dengan tim yang dimiliki Indra Sjafri saat ini dalam kepemimpinannya pasca kembali ke Garuda Muda pada April silam setelah sempat dipecat pada November 2017.[]

terkait

Image
Image
Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image