Istora nan Manis di Ganda, Pahit di Tunggal

Dian Eko Prasetio

Indonesia Terbuka 2018

Image
Ekspresi pebulu tangkis tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung usai gagal menambah skor saat melawan pebulu tangkis Thailand Ratchanok Intanon dalam pertandingan babak kedua Blibli Indonesia Open 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (5/7/2018). Gregoria gagal melaju ke babak perempat final usai kalah dari Intanon dengan skor 11-21, 21-17 dan 14-21. AKURAT.CO/Dharma WIjayanto

AKURAT.CO, Kejuaraan bulutangkis level tertinggi BWF World Tour 1000 yang bertajuk Indonesia Terbuka 2018 baru saja berakhir. Indonesia sukses meraih dua gelar pada turnamen level elit dunia ini.

Gelar juara hadir lewat nomor ganda putra dan ganda campuran. Dua nomor yang selama ini menjadi andalan Indonsia untuk meraih gelar juara diberbagai kejuaraan.

Pada partai final yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (8/7), Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo berhasil menyumbangkan gelar juara pada nomor ganda putra usai menaklukkan ganda Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko 21-13 dan 21-16.

baca juga:

PBSI: Hanya Pelatih yang Bisa 'Menormalkan' Tingkah Kevin Sanjaya

Drama Marcus/Kevin dan Conrad/Kolding Tidak Berbuntut Panjang

Kemegahan Indonesia Terbuka 2018 Ternoda Akibat Makanan Basi

Sedangkan satu gelar lainnya berhasil disumbangkan lewat nomor ganda campuran atas nama Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Owi/Butet – sapaan Tontowi/Liliyana – menang usai mengatasi perlawanan ganda Malaysia, Chen Peng Soon/Goh Liu Ying 21-17 dan 21-8.

Tontowi/Liliyana Juara Bibli Indonesia Open 2018. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Selain Indonesia, dua gelar lainnya berhasil direbut wakil Jepang pada nomor ganda putri lewat Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dan tunggal putra, Kento Momota. Sedangkan untuk tunggal putri, Tai Tzu Ying dari China Taipei berhasil mengamankan gelar.

Dua gelar yang berhasil diraih Indonesia dalam turnamen level 1000 ini bisa dikatakan di luar dugaan. Apalagi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) hanya menargetkan satu gelar dalam kejuaraan ini. Kala itu, PBSI beranggapan bahwa target itu sangat masuk akal mengingat ketatnya persaingan bulutangkis dunia.

"Target satu gelar ini cukup realistis, mengingat turnamen Indonesia Open 2018 ini diikuti 32 pemain top dunia dan tidak melewati babak kualifikasi," ujar Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti.

Namun, dalam perjalanannya, wakil-wakil Indonesia khususnya di nomor ganda putra dan campuran tampil sangat-sangat meyakinkan. Walau Marcus/Kevin dan Tontowi/Liliyana turun sebagai pasangan andalan, junior mereka ternyata tampil di luar dugaan.

Pada nomor ganda putra, perjalanan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto cukup mencengangkan. Sebelum bertemu Minions – julukan Marcus/Kevin – di babak semifinal, mereka berhasil menumbangkan juara Malaysia Terbuka, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, dan juara dunia 2017, Liu Cheng/Zhang Nan.

Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Walau tampil meyakinkan sepanjang kejuaraan, Susy Susanti pernah menilai permainan Fajar/Rian masih belum bisa konsisten seperti Minions. Hal seperti itu yang akan coba kembali dievaluasi oleh PBSI untuk pemain-pemain muda.

"Fajar/Rian punya kemampuan, tapi belum stabil untuk masuk jajaran elit. Ini catatan kita bisa mereka segera bisa mendampingi Minions," ucap Susy saat ditemui sebelum bergulirnya Indonesia Terbuka.

"Mereka harus lebih garang, lebih siap lagi. Karena secara teknik mereka bagus, tapi kalau main ketat mereka selalu di bawah tekanan, agak sulit keluar. Bukan hanya mental, tapi juga perubahan strategi kecepatan, power pada saat poin tertekan. Itu yang harus diperhatikan."

Apa yang dikatakan Susy ternyata terbukti. Saat menghadapi Minions di babak semifinal, Fajar/Rian gagal menampilkan performa terbaik mereka dan kalah dengan skor cukup telak 21-13 dan 21-10.

Sedangkan pada nomor ganda campuran, penampilan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja bisa membuat pecinta bulutangkis tanah air sedikit tenang saat Liliyana memutuskan pensiun di dunia bulutangkis. Hafiz/Gloria bisa melanjutkan tongkat estafet juara ganda campuran yang kerap diraih Owi/Butet.

Pada kejuaraan yang berhadiah total Rp18 miliar ini, Hafiz/Gloria tampil gemilang sebelum ditumbangkan Owi/Butet di babak semifinal – jam terbang menjadi alasan Hafiz/Gloria gagal melewati senior mereka. Tapi, dalam perjalanannya, mereka berhasil melewati ganda kuat Denmark, Mathias Christiansen/Christinna Pedersen.

Walau begitu, Indonesia masih belum bisa bicara banyak pada tiga nomor lainnya. Pada nomor tunggal putra, Indonesia harus terhenti di babak perempat final. Jepang menjadi sosok menakutkan bagi wakil-wakil Indonesia. Tommy Sugiarto dan Anthony Sinisuka Ginting gagal meredam juara Indonesia Terbuka 2018, Kento Momota.

Anthony Ginting Gagal Melangkah ke Perempat Final. AKURAT.CO/Dharma WIjayanto.

Menyusul tunggal putra, pun begitu di sektor putri di mana Indonesia hanya mampu melangkah ke babak kedua. Bahkan Indonesia belum mampu mengirimkan salah satu wakil ke peringkat top 25 dunia – peringkat terbaik tunggal putri Indonesia ditempati Gregoria Mariska Tunjung yang berada di peringkat 33 dunia.

Nasib lebih baik ada pada nomor ganda putri. Walau gagal meraih gelar juara, setidaknya Greysia Polii/Apriyani Rahayu dan Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta masih bisa bersaing di jajaran elit. Sayang perjalanan mereka di Indonesia Terbuka 2018 kandas di tangan juara asal Jepang, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota.

Sebagai salah satu kejuaraan level tertinggi dalam kejuaraan bulutangkis, Indonesia Terbuka tahun ini bisa dijadikan acuan atlet-atlet kita untuk meraih medali emas pada ajang Asian Games Jakarta-Palembang 2018, 18 Agustus mendatang.

Walau lawan yang akan dihadapi pada Asian Games nanti kemungkinan adalah lawan yang sama, setidaknya atlet-atlet Indonesia sudah memiliki bekal apa yang harus mereka persiapkan dalam menghadapi pesta olahraga empat tahunan negara-negara Asia tersebut.[]

 

terkait

Image
Image
Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image