Indonesia Terbuka 2018

PBSI: Hanya Pelatih yang Bisa 'Menormalkan' Tingkah Kevin Sanjaya

Dian Eko Prasetio

Image
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO Kejuaraan bulutangkis BWF World Tour Super 1000 yang bertajuk Indonesia Terbuka 2018 memang sudah rampung. Namun ada beberapa momen yang mungkin tidak bisa dilupakan para pecinta bulutangkis dunia.

Salah satunya terjadi pada babak perempat final nomor ganda putra yang mempertemukan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding.

Ketika itu sempat terjadi banyak ketegangan sejak awal laga, dan puncaknya terjadi di set ketiga saat ibu jari Kevin turun ke arah wajah Conrad.

baca juga:

Istora nan Manis di Ganda, Pahit di Tunggal

Drama Marcus/Kevin dan Conrad/Kolding Tidak Berbuntut Panjang

Kemegahan Indonesia Terbuka 2018 Ternoda Akibat Makanan Basi

Itu dilakukan Kevin menyusul challange yang diminta Conrad dikabulkan oleh wasit, setelah bola jatuh cukup lama. Bahkan karena ulah Kevin tersebut, The Minions -julukan Marcus/Kevin- hampir saja mendapatkan kartu hitam dan terancam di diskualifikasi oleh wasit yang memimpin pertandingan.

Terkait hal tersebut, Sekretaris Jendral Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Achmad Budiharto menjelaskan bahwa PBSI coba meluruskan masalah tersebut. Ia juga mengakui bahwa apa yang dilakukan oleh Kevin itu tidaklah patut untuk dilakukan.

"Kita di sini bukan mendukung atau tidak mendukung, tapi kita harus meluruskan. Tapi ya itu kita akui, sebagai contoh di lapangan dia (Kevin) mengacungkan jari ke bawah itu tidak boleh," ujar Budiharto usai Indonesia Terbuka 2018.

Untuk sedikit membenahi tingkah Kevin yang terlampau provokatif, PBSI sebenarnya sudah pernah membahas itu dengan jajaran pelatih. Walau bisa dikatakan itu juga termasuk dalam startegi, namun jika berlebihan itu malah bisa merugikan bagi Minions sendiri.

"Kita sudah bahas itu dengan para pelatih dan juga pembinanya untuk mencoba sedikit 'menormalkan' (Kevin). Ya melalui pelatih, karena pelatih lah dan binpres yang lebih dekat dan bertanggung jawab," Budiharto menambahkan.

"Memang itu (provokasi) kadang-kadang bagian dari startegi supaya konsentrasi lawan lebih terganggu. tapi ya itu tadi, boleh memprovokasi tapi jangan berlebihan, boleh memprovokasi tapi jangan ikut terprovokasi."[]

terkait

Image
Image
Image
Image
Image
Image

komentar

Image
0 komentar

terkini

Image
Image
Image